To Build and To Plant

Dimas dan sedulur semua,

to build and to plant” adalah kata kerja. Jika “to build and to plant” adalah kata kerja (aktif) maka ada (suatu) tujuan yang hendak dicapai/diraih oleh sang subjek. Dengan kata lain, sang subjek bekerja (to build or to plant) untuk mencapai hasil tertentu.

Dalam refleksi saya, “to build and to plant” akan semakin bermakna ketika dilengkapi dengan “spirit” dan “strategy” oleh sang subjek.

Ketika sang subjek melengkapi “to build and to plant” dengan “spirit” (kemudian menjadi kata benda – spiritual) maka ia melihat dengan baik-jernih-bening relasi interpersonal dan intrapersonal. Pada saat yang sama, sang subjek melengkapi “to build and to plant” dengan “strategy” maka ia melihat “leveling” pencapaian atau hasil sebagai “buah” kerja/karya (to build and to plant).

Berdasar refleksi atas pengalaman ini, saya mulai menggabungkan keduanya yaitu “kerja/aktivitas” dan “pencapaian/hasil“; means dan end. Pada saat yang sama, saya melihat secara bersama “internal” dan “eksternal“; sebagai spiritualisme. Pada saat yang sama pula, saya mengukur tingkat hasil kerja (leveling); sebagai bagian dari strategy. (Dimas….nek gawe proposal utawa MoU (baca: kerja bersama dengan pihak lain) mesti muncul pitakonan tentang “deliverable atau indicator” hehehehehe….)

Jika penggabungan antara “spirit” dan “strategy” berjalan baik-seiring-seimbang untuk melakukan kerja/karya (to build and to plant) maka kita akan dibawa pada proses recovery untuk dream, imagine, innovative, focus dan action. (hehehehe…Dimas dan sedulur, saya sadar bahwa saya kerap tidak seimbang berjalan karena “daging/badan lebih kuat dari roh” hehehe… sampean isih eling ukara iki po ra Dimas…hehehehe….)

Dimas dan sedulur….terima kasih sudah mengingatkan saya dengan kata kerja (aktif) yang hebat itu; to build and to plant. Oh ya terima kasih juga kepada Paulo Coelo (hehehehe…). Juga…nenepi saya saya pagi ini… “hasil/pencapaian yang luar biasa hanya bisa didapatkan dengan cara/kerja yang tidak biasa”.

Salam,